Tampilkan postingan dengan label Essai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essai. Tampilkan semua postingan

Menjadi Mahasiswa Psikologi

Posted on 07.33 | By Campus Literacy Movement | In


Menjadi Mahasiswa Psikologi

Oleh: Muhammad Iqbal

Izinkan saya merangkum pengalaman 3 tahun berkuliah dalam satu tulisan ini, tentang menjadi mahasiswa Psikologi. Karena melalui sharing kita akan sama-sama lebih mengerti..

Maha-siswa... Dulu aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya memiliki title baru sebagai maha-siswa. Uh! Ini membuatku bingung tentang bagaimana jadinya jika saya berhasil menjadi mahasiswa. Karena yang ada saat akan masuk kampus hanyalah petuah orang tua yang berbunyi, “Sst!! Jangan ikut2an demo!!“, “Hati-hati Jaringan Liberal!!“ dll. Tapi, pada saatnya tiba aku menjadi mahasiswa, “Oh.. gini tho yang namanya kuliah?!!” Hah!! Bergelut dengan Psikologi: Kuliah-kosan, kuliah-organisasi, kuliah-maen, demo, liburan, kerja, pacaran.. dll. Lalu setelah 3 tahun ‘duduk‘ di kampus, kau jadi bertanya, “Apa ya yang dah didapat setelah 3 tahun berkuliah??“ ....

Hm.. Bingunglah saya menjawab ini..!! Karena rasanya ini hanya tentang menjalani hidup, hampa euy! Jika kalian bertanya pada saya tentang PSIKOLOGI, ya mungkin saya bisa menjelaskannya, dari mulai sejarah, teori, metodologi, sampai aplikasi... Tapi rasanya bukan penjelasan psikologi yang saya inginkan! Lalu jika kalian bertanya pada saya tentang organisasi, ya mungkin juga saya dapat menjawabnya, dari hal membuat porgram, pembentukan struktur sampai membuat event besar. Tapi sepertinya bukan hal ini pula yang saya inginkan..

Ada cita-cita, harapan, idealisme dan apalah itu namanya yang jauh lebih besar yang harus didapat jika seandainya saya menghabiskan beberapa waktu untuk berkuliah... (Kita tidak pernah tahu betapa berharganya kuliah karena kita tidak mau tahu betapa sulitnya orang lain yang ingin berkuliah). Tentu kita sama-sama tahu tentang orang tua yang mempekerjakan anaknya setelah tamat dari SMA karena tidak ada biaya untuk anaknya berkuliah? Dan tentang pengangguran yang melintas melewati gedung kampus tanpa pernah bisa merasakan ‘nikmatnya‘ berkuliah‘?? Ya maka beruntunglah kita dapat menikmati ‘indahnya‘ kuliah.. Tapi sepertinya kita menjadi manusia paling rugi jika kita berkuliah tanpa pernah memiliki harapan atau pencapaian!?

Kita tidak sedang membahas bahwa ada di antara kita yang terjebak, terdampar, terpaksa atau coba-coba berkuliah di Psikologi, karena apapun itu, yang pasti adalah saya, kamu dan yang lainnya adalah orang-orang yang sudah terkotak dalam ruang bernama Psikologi, jadi mau tidak mau berada di kampus ini harus memiliki harapan!

Saya akan jujur tentang harapan saya untuk alasan mengapa saya membuang waktu selama 4 tahun di kampus ini. Saya ingin menjadi ilmuwan psikologi (usai S1&S2), saya ingin skripsi saya menjadi buku, saya harus memiliki keterampilan khusus dalam psikologi (Ex; Hipnosis/grafologis/menafsirkan mimpi, etc), saya harus mengajak kawan2 saya untuk lebih banyak berdiskusi dan berliterasi, dan saya perlu pengalaman luar biasa sebagai mahasiswa (mendaki gunung/menjadi demonstran/ menginjak tanah terjauh di Indonesia) dll.

Sebagian harapan itu telah saya capai, dan saya perlu mencapai yang lain.. Jikalah tidak tercapai, saya tetap bangga karena saya pernah memiliki harapan. Lalu, bolehkah saya tahu apa HARAPAN kawan2??

Pada akhirnya, kita perlu menemukan lebih dalam apa sesungguhnya yang ingin kita harapkan ketika kita menentukan pilihan untuk membuang waktu cukup lama di kampus ini. Jika hanya berkuliah lalu menggeluti absen & tugas di kelas selama 4 tahun, dan akhirnya bisa kerja karena S1, rasanya semua orang bisa melakukan ini..

Ini tentang memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain, dan tentang menemukan makna.. Saya hanya khawatir dengan apa yang disebut oleh Victor Frankl sebagai ‘kehampaan eksistensial’. Hampa, hampa, hampa........


-03 Desember 2009-

Literasi?

Posted on 17.00 | By Campus Literacy Movement | In

Menebar virus literasi

Oleh: Muhammad Iqbal

Pada suatu kali seorang dosen pernah berujar, “Kalian tidak perlu mengikuti UAS dan tetap mendapatkan nilai A, jika kalian bisa menyerahkan satu tulisan kalian yang berhasil dimuat di media massa..” Lalu dosen lain pernah memberikan instruksi yang berbeda, “Siapa yang membaca, dia yang berhasil dalam ujian.” Kemudian hal serupa diserukan oleh hampir seluruh dosen kepada mahasiswanya.

Apa yang bisa kita tangkap dari fenomena di atas??

Fenomena ini memberikan kita suatu gambaran bahwa keberhasilan dalam studi faktor terpentingnya adalah ditentukan oleh keterampilan membaca dan menulis. Ya, keterampilan baca-tulis adalah keterampilan yang setiap dari kita dapat melakukannya, keterampilan yang kemudian membangun citra mahasiswa sebagai bagian dari manusia-manusia yang banyak bergumul dengan budaya baca-tulis, menjadi budaya yang kemudian disebut sebagai budaya literasi.

Literasi secara sederhana diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara. Namun dalam konteks sekarang literasi memiliki arti yang sangat luas, yaitu melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan.

Dalam buku “Literacy: Profile of America’s Young Adult”, Kirsch dan Jungeblut mendefinisikan literasi kontemporer sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Lebih jauh lagi, seseorang baru bisa dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman bacaanya.

Maka atas pemahaman tersebut, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa mahasiswa adalah representasi dari generasi literat bangsa ini. Ya, kita adalah bagian dari manusia-manusia yang banyak bergumul dengan dunia literasi. Intelektualitas kita berkembang karena kita membaca, menulis dan bersikap berdasarkan pemahaman bacaan kita.

Sekarang ini generasi literat mutlak dibutuhkan agar bangsa ini bangkit dari keterpurukan dan dapat bersaing serta hidup sejajar dengan bangsa lain. Wagner (2000), menegaskan bahwa tingkat literasi yang rendah berkaitan erat dengan tingginya tingkat drop-out sekolah, kemiskinan dan pengangguran. Ketiga kriteria tersebut adalah sebagian dari indikator rendahnya indeks pembangunan manusia. Menciptakan generasi literat merupakan jembatan menuju masyarakat makmur yang kritis dan peduli. Kritis terhadap segala informasi yang diterima sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Gerakan literasi di Indonesia sebagai bangsa timur yang dikenal sopan dan beradab ini kita akui masih lebih rendah dari bangsa barat yang kapitalis. International Achievement Education Association (IAEA) salah satu badan UNIESCO, pernah membuat laporan penelitian di negara-negara yang anak-anaknya memiliki keterampilan baca yang baik misal, Amerika, Finlandia, dan negara-negara Eropa. Pada umumnya anak-anak tersebut mempunyai akses yang mudah dalam mendapatkan bemacam bacaan berkualitas, baik di perpustakaan sekolah maupun rumah.

Dari penelitian tersebut betapa membuat miris, bahwa anak-anak Indonesia menduduki peringkat ke-29 dari 30 negara yang menjadi sampel. Bahkan sejak 1973, yaitu laporan UNESCO bahwa negara Indonesia tergolong sebagai bangsa yang kelaparan, “kelaparan buku”. Yang kemudian sinyalemen tersebut berbunyi, “Indonesia belum menerbitkan satu buku pun!”. Dan banyak lagi yang cukup membuat kita geram tentang budaya literasi di negeri ini. Yang kesemuanya menunjukkan betapa negara ini masih membutuhkan banyak belajar proses untuk membangun sebuah negara yang berkebudayaan literat.

Di saat Malaysia menjadikan literasi sebagai fondasi dasar dalam membangun peradaban, kita justru masih berkutat pada dunia hukum karena masalah pemberantasan korupsi masih jauh lebih penting ketimbang pemberdayaan budaya baca-tulis.

Lalu sejauh mana gerakan literasi berkembang di kampus??

Berbicara tentang kampus, maka literasi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia kampus. Ada perpustakaan sebagai sumber bacaan, madding, bulletin, buku, dan jurnal sebagai media tulis dan sebagainya. Namun itu belum menjawab pertanyaan sesungguhnya, karena permasalahan selanjutnya adalah sejauh mana kita memanfaatkan berbagai sarana literasi yang sudah ada tersebut??

Andre Morois, sastrawan Perancis pernah mengungkapkan bahwa misi terpenting kehadiran dunia pendidikan adalah untuk mengantarkan para peserta didiknya agar mampu “membuka gerbang perpustakaan sendiri.”

Hal ini yang sebenarnya kita interpretasikan bahwa keberhasilan setiap individu, dalam pendidikan khususnya, akan kembali lagi pada sejauh mana ia memanfaatkan sumber bacaan, lalu menuliskannya dan memiliki pandangan berdasarkan pemahaman bacaannya.

Selain perpustakaan tentu masih banyak lagi yang bisa dimanfaatkan sebagai media mengembangkan budaya literasi di kampus. Yang pada akhirnya, jika setiap individu bersama-sama mengerakkan pentingnya budaya literasi sebagai akar rumput peradaban, lalu ketika itu berkembang dan menjadi virus, kita sebarkan virus literasi kepada lingkungan sekitar yang memiliki konteks yang lebih luas. Maka tentu akan jauh lebih mudah untuk membentuk generasi literat bangsa ini. Hal inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika beliau diproklamirkan sebagai Rasul, yaitu menjadikan tradisi iqra dan qalam sebagai landasan utama dalam mendesain kebangkitan Islam.

Maka pada akhirnya tidak bisa dipungkiri bahwa kebangkitan literasi menjadi sangat penting sebagai titik pergerakan menuju Indonesia yang lebih baik.


-November 2008